Ketika gema suaramu
di ufuk buana
menggemparkan
pemuka segala kabilah
lupakah kiranya
dikau membega
bahtera yang tertaklif kepadamu
yang kini sedang bocor dan mereput?
Syahdan berkatalah si burung tiung:
Manusia itulah yang mengajarku berkata-kata
lamun tanpa makna yang nyata.
Dilatihnya aku bertubi-tubi.
Maka puaslah hatinya
menyaksikan aku menuturkan kata
meskipun aku tiada mengerti…